Minggu, 28 Oktober 2012

JIKA ADA PERBEDAAN POLA PENGASUHAN

Konsistensi dalam mengasuh anak kita tahu sangatlah WAJIB karena saking pentingnya. Konsistensi antara orangtua dengan anak, konsistensi antara suami dan istri saat menghadapi permasalahan dengan anak. Ketika seorang istri mengatakan TIDAK, maka suami pun harus TIDAK. Bukan menjadi ‘pahlawan’ saat anak menangis dengan mengatakan “Mama, gitu aja dimasalahin… kasih aja ngapa sih!”
Ketika kita tidak konsisten, maka berbahaya akibatnya untuk anak. Anak jadi tidak mempercayai mulut kita. Anak jadi semakin mudah untuk membangkang kepada kita. Akibatnya anak tidak bisa kita ‘kuasai’. Orangtua akhirnya tak memiliki otoritas untuk mengendalikan anak. Jika anak tak bisa dikendalikan, orangtua akan sangat sulit mengarahkan perilaku positif anak.
Contoh sederhana dari ketidakonsistenan adalah saat orangtua hendak berbelanja ke supermarket. Lalu di rumah membuat kesepakatan tentang mana makanan yang boleh dan tidak boleh dengan berbagai alasan. Misalnya saat anak lagi batuk, sebagian orangtua membuat kesepkatan dengan anak untuk tidak membeli makanan yang manis-manis seperit coklat. Ini sebagai contoh saja lho ya. “Kamu boleh ikut, asalkan nanti tidak beli coklat ya! bagamana?”
“Ok deh ma!”, kata anak kita.
Lalu apa yang terjadi di supermarket? Apakah anak kita selalu melaksanakan apa yang sudah diucapkannya? Berhubung sebagian anak kita, terutama balita, sel-sel syarafnya belum nyambung semua, maka pikiran mereka sangat konkrit dan belum bisa abstrak. Karena itu meereka belum memahami konsep waktu dan karena itu pula mereka tidak bisa mengintegrasikan waktu. Bukan mereka tidak ingat dengan kesepkatan yang telah dibuat. Bukan karena mereka sudah dikasi modal ingkar janji, tapi karena ‘otak’ mereka baru memahami bahwa SEKARANG itu berbeda dengan SEJAM LALU (waktu di rumah). Hari ini ini itu berbeda dengan kemarin!
Karena itu, sebagian anak merengek-rengek, menangis, saat tiba di supermarket ngotot untuk dibelikan coklat. Lalu saat orangtua berkata “Kan kamu sudah janji!”, sebagian anak tak ambil peduli. Seolah ada bisikan syetan dalam pikiran mereka “Lanjutkan ikhtiarmu Nak!” Lalu mereka teriak-teriak, guling-tuling. Semakin orangtua malu semakin mendekati ya!”
Lalu sebagian orangtua tidak tahan atau salah satu dari pasangan (ayah/ibu) tidak tahan dan lalu memberikan coklat yang diminta sambil memberi khotbah penutup “Awas ya.. lain kali nggak boleh gitu! Kalo gitu lagi, mama tinggal lho di supermarket! Ayah laporin satpam! Kasihin ke dokter biar disuntik! Dipanggil pak polisi biar ditembak!” dan obral ancaman lainnya. Tapi sambil ngasih coklatnya. Heuheu..
Nangisnya selesai? Betul! Tapi pada saat yang bersamaan justru kita telah MEMPERBESAR MASALAH! Apa yang anak pelajari?
Kata tidak mama dan papa tidak artinya!
Mama dan papa berhohong!
Mama dan Papa bisa diakali..
Semakin mama dan papa malu semakin mendekati ya
Semakin aku bertingkah semakin mama papa kesel
Semakin mama papa kesel, semakin keinginannku mendekati diberikan
Maka benarlah apa yang dikatakan Allah dalam surat As Shaff surat ke 61 ayat 2-3: kaburo maqtan indallah antaquulu maa laa taf’aluun. Sungguh besar kemurkaan disisi Allah jika kamu mengatapak apa-apa yang tidak kamu kerjakan!
Tapi yang ingin saya bahas di sini adalah jika terjadi perbedaan dengan nenek dan kakeknya anak-anak kita. Sebenarnya jangankan dengan nenek dan kakeknya, dengan suami saja bisa berbeda kan? Suami bilang tidak, istrinya ya. Suami bilang ya, istrinya bilang tidak. Soal perbedaan pola asuh dengan suami kita bahas lain kali. Saya ingin bahas dengan nenek dan kakeknya.
Mungkin Anda pernah mengalami kejadian sejenis ini atau pernah mendengar orangtua yang mengeluh tentang ini. Kalau saya sih sering banget ditanya tentang hal ini. Apalagi saat saya menyampaikan modul KONSISTENSI pada pelatihan orangtua PSPA.
“Abah Ihsan. saya mau bertanya, bagaimana menghadapi kondisi dimana ketika kita sebagai orangtua telah berusaha konsisten menjalankan aturan bersama anak kita. Tapi ketika anak kita “pindah tangan” alias sedang pergi/berkunjung ke rumah lain terutama ke rumah nenek kakeknya, eh tiba-tiba rusak dech aturan yang telah kita sepakati dengan anak.
Contohnya : ketika anak minta coklat, padahal di rumah telah disepakati tidak boleh makan coklat karena batuh, eh begitu ketemu nenek/kakeknya malah dikasih dengan gampangnya. Padahal kita selaku orangtau telah berkali-kali memberitahu pada nenek dan kakeknya untuk tidak seperti itu. Tapi mereka berlasan kasihan namanya juga anak kecil. Lagian cuma satu ini (coklatnya).
Huhuh… kesel dech rasanya rusak dech kesepakatan yang sudah buat dengan anak. Bagaimana ya abah menghadapi situasi ini?? Terimakasih sebelumnya”
Orangtua shalih, saya ingin mengajak Anda dengan TINDAKAN PERTAMA: yuk jangan fokus menyalahkan nenek, kakek dulu, let’see apa yang bisa kita lakukan? Dengan situasi seperti ini? Soalnya nenek kakek itu hanya menginginkan kasih sayang sama cucu mereka.  Mungkin mereka tidak tau rule of the games yang berlaku di rumah kita karena itu.
Karena itu yang TINDAKAN KEDUA adalah, cobalah ajak bicara dengan mereka “mama, papa, aku lagi belajar berkeluarga. Aku dan suamiku memiliki aturan-aturan sendiri yagn berlaku di keluarga kami, atas kesepakatan kami, termasuk yang berlaku untuk anak-anak kami, cucu mama papa, yang mungkin berbeda dengan aturan yang berlaku waktu aku kecil dulu di rumah ini. Karena itu, aku harap, mama papa mau mengerti ini”
Lalu jelaskan apa saja SOP-SOP yang harus berlaku untuk cucu-cucu orangtua kita itu. Mungkin nenek dan kakek anak kita tidak tahu dan mungkin belum pernah dikasi tau tentang hal ini, jadi mereka hanya sekadar melampiaskan rasa sayangnya. Karena itu komunikasikan dulu apa yang boleh dan apa yang tak boleh kepada nenek dan kakeknya anak-anak kita.
TINDAKAN KETIGA, jika orangtua kita adalah tipe yang tidak bisa diajak bicara, dengan alasan “kamu tau apa sih, mama dan papa mendidik kamu itu puluhan tahun! mama dan papa sudah makan asam garam mendidik anak!” Misalnya yang tipe seperti ini, maka BUAT ANAK LEBIH PERCAYA KEPADA KITA DARIPADA SIAPAPUN.
Meski kita tidak ada, maka anak akan lebih ‘mematuhi’ kita. Misalnya saat keempat anak saya berkunjung ke rumah neneknya, saat disodorkan makanan yang diluar ‘sop’ kita, anak-anak kita akan berkata “Mbah.. kata umi abah, itu tidak boleh.. ”
Ketahuilah, anak yang saat kita larang malah lari ke nenek dan kakeknya, adalah anak-anak yang belum mempercayai orangtuanya. Karena itu konsistensi ini sangat penting. Bagaimana cara membuat anak lebih percaya pada kita orangtuanya?
Bangun kedekatan dengan anak dan jangan pernah berbohong atau ingkar janji pada anak! Ketahuilah, orangtua yang mengendap-endap ketika hendak meninggalkan anak ke luar rumah adalah orangtua yang menipu anak. Orangtua yang memanggil hantu “awas ada kalong wewe, masuk, ayo tidur” adalah orangtua yang berbohong pada anak. Atau orangtua yang memukul meja dan kursi saat anak terjatuh untuk menyalahkan meja kursi tersebut juga orangtua yang berohong pada anak. orangtua yang bersekongkol dengan tukang dagang “mang ini pahit ya mang?!” padahal makanan manis adalah orangtua yang berbohong pada anak.
Dan hei.. ulama mana yang membolehkan kita berbohong pada anak. Kata siapa berbohong pada anak itu tidak dosa! Sekali bohong ya bohong! Karena itu saat saya berjanji anak untuk membelikan martabak misalnya, saat saya lupa saya akan balik lagi mencari kemanapun martabak itu berada. Bukan soal martabaknya, bukan soal uangnya. saya tidak mau, anak-anak saya, tidak mempercaya perkataan-perkataan saya dan mulut saya di waktu-waktu berikutnya! Berbeda jika benar-benar semua tukang martabaknya ‘cuti’, itu namanya rukhsoh!
Karena itu, sebelum pergi ke rumah nenek dan kakenya, buat kesepatan-kesepkatan dengan anak sebelum berkunjung ke rumah nenek dan buat pula konsekuensi2nya jika anak kita melanggar yang mungkin akan mereka dapatkan setelah sampai pulang kembali ke rumah. Misalnya, tentang batasan nonton tv. Makanan yang bolehd an tidka boleh. Mungkin kita tak bisa bertindak di depan nenek dan kakeknya, tapi konsekuensinya itu bisa kita lakukan setelah kita berada di wilayah otoritas kita (rumah kita sendiri).
TINDAKAN KEEMPAT, jika keluarga kita masih ‘bersatu’ dengan rumah nenek dan kakeknya anak-anak, saran terbaik dari abah adalah SAAT KITA BERUMAH TANGGA, TERPISAHLAH DENGAN RUMAH ORANGTUA. Ini wajib! Mana mungkin di satu rumah ada dua raja? Lebih baik ngontrak rumah 1×1 (mesra gitu lho..) daripada di rumah yang lapang, mewah, hemat, tapi kita tidak memiliki independensitas, kewenangan dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangga kita sendiri. ya tentu, jika ada, rumah sendiri, lapang, nyaman dan tidak sempit.
Jika oarngtua kita sudah tua, dan dengan alasan tidak ada yang menjaga. Boleh menjaga, tapi terbaik adalah jaga orangtua kita di rumah kita sendiri bukan di rumah orangtua kita, sehingga aturan yg berlaku adalah aturan rumah kita, bukan aturan rumah orangtua kita. Lalu buat kesepkatan-kesepaktan dengan orangtua kita seperti pada TINDAKAN KEDUA.

sumber:  fimadani.com

Sabtu, 27 Oktober 2012

TANDA DAN GEJALA ANAK CACINGAN

Gejala :
Gejala penyakit cacingan biasanya baru timbul dan dapat dideteksi jika sudah banyak larva cacing yang bersarang dalam tubuh. Tanda paling umum pada anak adalah sebagai berikut :

1. Seringkali terlihat menggaruk bokongnya.
2. Nyeri di perut : cacingan dapat menimbulkan sakit perut yang dapat menyebabkan diare.
3. Lesu dan lemas akibat kurang darah (anemia) : biasanya disebabkan oleh cacing tambang, membuat tubuh menjadi lemas kekurangan darah karena dihisap cacing.
4. Berat badan rendah : nutrisi yang seharusnya diserap oleh tubuh juga menjadi makanan cacing sehingga anak menjadi kekurangan gizi.
5. Batuk tak sembuh-sembuh : jika cacing hidup di paru-paru sehingga dapat menyebabkan batuk berkepanjangan pada anak.

Jika terlihat gejala-gejala seperti diatas pada anak anda, lakukanlah pengecekan dengan memeriksa feses dan anusnya untuk mencari tanda-tanda adanya cacing atau tidak.

Penanganan :
Penanganan terhadap penerita cacingan harus segera dilakukan secepat mungkin, bukan hanya pada si penderita, tapi juga seluruh keluarganya untuk mencegah siklus berulang. Berikan obat anti cacing yang bisa dibeli bebas di apotik jika anak anda cacingan. Namun, jika cacingan menyerang balita berusia dibawah 2 tahun, maka anda harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pencegahan :
Cara terbaik adalah dengan perilaku hidup sehat. Untuk itu disarankan untuk melakukan pencegahan penyebaran telur-telur cacing tersebut dengan menerapkan pola hidup higienis. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa diterapkan pada keluarga anda :

* Karena cacing kebanyakan hidup di tanah maka hindari pula si kecil bermain tanah, sebab bisa saja cacing masuk melalui kuku anak.
* Jangan biarkan kuku anda dan keluarga panjang, agar telur-telur cacing lebih sulit terjebak di sela-sela kuku.
* Biasakan anak untuk tidak memasukan tangan kedalam mulut.
* Cucilah tangan dan jari-jari kuku hingga bersih (disarankan menggunakan sabun antikuman) sebelum makan dan setelah buang air besar atau buang air kecil.
* Basuh bokong dengan air hingga bersih setiap pagi, atau setelah buang air besar dan buang air kecil.
* Pakai pakaian dalam bersih saat malam.
* Hindari pemakaian pakaian dalam, atau handuk bersama.
* Cuci sprei, mainan, dan pakaian secara rutin.
* Bersihkan debu, dan kotoran didalam rumah dengan menyapu dan mengepelnya.
* Minum obat cacing secara rutin tiap 6 bulan sekali bisa membunuh cacing yang bersarang.

Gejala awal penyakit cacingan tidak selalu terlihat, oleh karena itu periksa dan pastikan anak bebas dari cacing secara rutin.

SUMBER:  http://www.ibudanbalita.com

TIPS MENGATASI ANAK YANG SUKA JAJAN

Faktor seperti iklan di televisi cukup besar memberikan pengaruh terhadap jajan anak. Apalagi untuk saat ini, iklan jajanan anak anak begitu bombastisnya muncul dilayar televisi. Saya sendiri pernah melihat seorang anak yang merengek-rengek minta dibelikan susu kotak setelah melihat iklan susu kotak ditelevisi. Selain itu saya juga pernah melihat anak yang menangis meraung-raung minta dibelikan coklat karena melihat temannya itu jajan di warung. Jadi ada banyak cara untuk menarik anak untuk jajan. Tayangan iklan di televisi, gambar di majalah anak, atau karena melihat temannya yang sedan jajan.
Hidup Konsumtif Karena Jajanan
Erat berkaitan dengan masalah ini adalah pengaruh konsumerisme yang bisa melanda diri anak. Tayangan-tayangan iklan untuk menarik minat anak tersebut dikhawatirkan membuat anak akan berlaku konsumtif.. Usaha untuk membangkitkan nafsu konsumerisme anak, bila dibiarkan akan memberi dampak negatif dalam keluarga. Orangtua yang terus membiarkan anak-anaknya menonton sembarang tayangan televisi, tanpa bimbingan dan pengawasan, maka perlahan-lahan membiarkan anak untuk menerima berbagai bentuk iklan untuk menyusup dalam pikiran anak.
Anak sebagai buah hati orangtua memang memberikan kebahagiaan dalam kehidupan berkeluarga. Yang menjadi masalah dalam kebahagiaan ini adalah bila orangtua terlalu memanjakan anak sampai memberikan uang jajan yang berlebihan atau mengabulkan semua keinginan anak untuk jajan. Bukan kebahagiaan yang didapat, tapi anak akan berpola hidup konsumtif.
Faktor Anak Suka Jajan
Bagi orangtua yang berekonomi menengah ke atas, tentu tidak masalah jika anaknya hobi jajan. Tapi, bagi mereka yang berpenghasilan tidak seberapa tentu akan menjadi masalah. Uang jajan yang dikasih akan dirasa tidak cukup untuk memenuhi keinginan jajannya.
Ada beberapa faktor mengapa anak suka jajan diluar.
1. Kebiasaan anak jajan di luar rumah mungkin saja, karena apa yang disajikan di rumah tidak menarik baginya. Dalam beberapa kasus yang kami temukan di lapangan, anak jajan di warung karena dia merasa bosan dengan sajian atau menu yang ada di rumah.
2. Kebiasaan mengemil. Bila di rumah sering kali mengemil dan makanan yang dia suka tidak ada, maka anak akan pergi ke warung untuk mencari makanan pengganti untuk cemilannya.
3. Orang tua yang royal belanja. Anak meniru sifat orangtua yang suka berbelanja makanan. Ditambah bila orangtua jarang memasak dirumah untuk anak akan memberikan cukup alasan bagi anak untuk mencari jajanan diluar.
4. Cukup uang untuk jajan. Orang tuanya terbiasa memberikan uang yang cukup banyak pada anak dan gampang menuruti keinginan anaknya untuk jajan.

Mengatasi anak yang suka jajan tidaklah gampang, apalagi bila itu terpola cukup lama. Dibutuhkan ekstra kesabaran untuk mengurangi nafsu jajan si anak. Tambah lagi dengan adanya pihak lain seperti paman, tante, atau tetangga yang suka memberikan uang jajan  kepada anak supaya mereka bisa dekat dengan anak. Ini secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada anak untuk berlaku konsumtif.
Bagi orangtua yang sudah mengerti tentang bahayanya jajan sembarangan juga harus mengajarkan dan mengingatkan kepada orang terdekat anak untuk membantu orangtua dalam mendidik anaknya supaya berhati-hati dalam menggunakan uang jajan. Orangtua tidak perlu sungkan untuk melakukan itu karena anak adalah tanggungjawab orangtua.

Cara Mengatasi
Tidak ada kiat jitu untuk mengatasi anak yang kecanduan jajan. Mungkin beberapa masukan di bawah ini bisa digunakan oleh para orangtua.
1. Membatasi jajanan anak. Jajanan di luar tidak selamanya menjamin kesehatan. Perlu disosialisasikan bahwa makanan bergizi lebih baik dari pada makanan yang menarik mata untuk sesaat.
2. Memberikan uang jajan sepantasnya buat anak. Jangan biasakan anak berlaku boros. Kalau bisa bekerjasama dengan pihak sekolah atau pengasuh lain yang dirumah untuk mengawasi jenis jajanan yang dijual. Bila anak mau jajan arahkan untuk jajan makanan yang sehat
3. Usahakan membuat panganan sendiri yang sederhana setiap hari dan bisa dibawa anak ke sekolah atau sebagai bekal pengganti anak untuk tidak jajan sembarangan
4. Bila anak menonton televisi, orangtua bisa mendampingi dan menjelaskan tayangan iklan beragam makanan. Bila anak bertanya itu menjadi sarana yang pas untuk berdialog tentang dampak buruk bila sering jajan sembarangan.
5. Arahkan anak untuk bisa menabung uang jajannya dan berikan motivasi untuk membeli sesuatu yang berguna bagi pendidikannya atau untuk kesehariannya.
6. Orangtua harus menjadi contoh hidup. Jangan suka menjadikan supermarket sebagai tempat hiburan bagi anak. Kasihan anak sudah melihat tapi tidak membeli. Kalau boleh ajak ke perpustakaan atau toko buku sebagai tempat hiburan agar mereka gemar membaca.
Kesimpulan
Kita tahu bila anak-anak sudah sering mengkonsumsi jajanan itu tidak hanya dalam jangka waktu sebulan atau dua bulan, namun bertahun-tahun. Itu bisa  dilakukan selama bersekolah di tempat tersebut atau bisa dilingkungan rumah. Dari penelitian BPOM diketahui, sebagian besar penganan yang dijajakan untuk anak-anak mengandung bahan-bahan berbahaya seperti pewarna, pengawet, dan pemanis buatan. Untuk pemanis buatan, relatif tak berbahaya. Namun, anak-anak membutuhkan energi yang berasal dari gula alami bukan diganti dengan gula lainnya.
Sebagai orangtua yang bijak, jangan ragu mengatakan, “tidak” atau “jangan” kepada anak. Kata-kata itu hendaknya disertai alasan yang masuk akal. Anak yang kecanduan jajan tidak hanya membahayakan kesehatan dan masa depan anak tapi juga  kehidupan pernikahan kedua orangtuanya. Orangtua bisa ribut gara-gara kebiasaan jajan anak yang sembarangan. Papa salahakan mama karena tidak jaga anak, mama salahkan papa karena kasih uang jajan kebanyakan. Nah kalau sudah begini siapa yang repot? 

SUMBER:  http://edukasi.kompasiana.com

MEMANTAU PERKEMBANGAN EMOSI ANAK


Dalam hidupnya setiap individu akan mengalami perkembangan psikis dan fisik dan bagi para orang tua memahami Cara Memantau Perkembangan Emosi Anak sangat penting karena dalam arti yang sesungguhnya dimaksud dengan perkembangan adalah perkembangan secara psikis. Dari beberapa tahapan perkembangan individu yang terjadi di dalam hidupnya diantaranya yang sangat penting adalah perkembangan pada masa anak. Sedangkan secara fisik perkembangan sering disebut dengan pertumbuhan.

Tahapan Perkembangan Individu pada Masa Anak

Masa anak merupakan suatu masa pada saat seorang individu sedang menggali potensi pada dirinya dalam rangka mencapai kematangan pada saat ia dewasa nanti. Perkembangan intelektual atau kognitif dan perkembangan emosional atau afektif pada anak dan remaja sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berupa faktor personal ataupun faktor sosio kultural.
Tahapan perkembangan emosi pada anak memiliki ciri-ciri tertentu namun yang jelas pada masa anak inilah setiap individu mengalami masa sekolah. Dengan demikian yang berperan dalam memahami dan perkembangan emosi anak dalam dunia pendidikan adalah setiap guru, sehingga diharapkan selain orang tua di rumah guru dapat menilai tingkat kematangan setiap anak didiknya.

Cara Memantau Perkembangan Emosi Anak

Untuk memahami tingkat kematangan afektif anak, orang tua dan guru dapat memanfaatkan pengetahuan tentang enam tahapan perkembangan afektif yang seharusnya dilalui oleh setiap anak yang normal. Pada tiap tahap pengalaman emosional yang sesuai merupakan dasar bagi berbagai kemampuan anak meliputi kemampuan emosional, social, kognitif, ketrampilan, bahasa serta konsep dirinya di masa depan. Harus diingat bahwa tahapan-tahapan tersebut berlangsung secara berkesinambungan. Gangguan perkembangan biasanya tidak terjadi apabila anak-anak berada dalam pengasuhan yang hangat. Keenam tahapan biasanya berakhir secara normal pada saat seorang anak berusia 4-5 tahun namun mereka yang berkebutuhan khusus akan memerlukan waktu yang lebih lama. Namun demikian dibandingkan bagaimana kualitas pencapaiannya waktu atau pada umur berapa tercapainya tidak lebih penting.
Adalah tugas orang tua dan guru untuk mengenali kemampuan emosi apa saja yang telah dimiliki oleh anak asuhnya dan mana yang belum atau membutuhkan penguatan. Idealnya hasil pengamatan ditampilkan dalam daftar rating scale dengan skor pencapaian dan umur. Singkatnya menurut berbagai pengamatan psikologis, Cara Memantau Perkembangan Emosi Anak secara sederhana adalah dengan memperhatikan sang anak pada saat berinteraksi, bermain dan beraktivitas lalu memperkirakan tahapan yang telah dilalui karena tahapan-tahapan itu berkesinambungan.

SUMBER:  http://artikelkesehatanwanita.com

DETEKSI DINI PERKEMBANGAN ANAK

Setiap anak tidaklah sama. Karenanya, perkembangannya juga berbeda. Meski demikian, Anda harus tetap memantau perkembangan anak dari waktu ke waktu dengan berpedoman pada penilaian perkembangan. Apa saja?

Saat berkumpul bersama teman-teman arisan, Novelia terkejut melihat anak temannya telah bisa jalan sambil berpegangan. Sementara Toni, putranya, belum bisa duduk sendiri. Padahal, usia mereka sama-sama masuk tujuh bulan. Dalam hati, Novelia bertanyatanya, jangan-jangan anaknya lamban perkembangannya dan apakah itu normal?

Anda mungkin juga sering melontarkan pertanyaan itu kepada diri sendiri. Mengapa anak saya telat bicara, padahal temannya sudah bisa bicara, mengapa anak dia sudah bisa berjalan, sedangkan anak saya belum, dan segudang pertanyaan lain.

“Setiap anak itu berbeda sehingga perkembangan antara anak satu dan anak yang lain juga bervariasi. Variasi ini kadang memang cukup besar,” kata dokter spesialis anak Nia Niasari.

Nia mengatakan, orangtua sebaiknya tidak perlu cemas bila melihat perkembangan anaknya tidak sepesat anak yang lain. Adapun yang penting, perkembangan anak tetap dimonitor dari waktu ke waktu dan melihat perubahannya. Kendati perkembangan setiap anak berbeda, tetap ada penilaian yang bisa dilihat untuk mengetahui sejauh mana kemajuan si kecil. Penilaian tersebut mencakup empat aspek kemampuan fungsional,yaitu motorik kasar, motorik halus dan penglihatan, berbicara, bahasa, dan pendengaran, serta sosial emosi dan perilaku.

Jika kekurangan pada salah satu aspek kemampuan tersebut, maka akan memengaruhi aspek kemampuan yang lain. Jangan ragu untuk mencatat pola perkembangan anak dalam empat aspek itu. Karena itu, Anda bisa mengetahui dengan pasti perkembangannya dan segera bertindak jika ada kejanggalan.

“Misalnya untuk motorik kasar, usia bayi 0-3 bulan, dia menangis dan aktif bergerak, serta mampu mengangkat kepala, tersenyum, dan menengokkan kepala ke kanan dan kiri,” kata dokter yang praktik di RS Hermina Jatinegara dan Daan Mogot ini.

Sementara untuk kemampuan motorik halusnya, bayi sudah bisa mengepalkan tangan. Namun, Anda harus mengasah terus kemampuan motorik halusnya ini. Karena itu, tidak perlu bayi terus-terusan mengenakan kaus tangan. Hal itu agar bayi bisa belajar meraba dan memegang.

Sementara untuk pendengaran, bayi usia 1 bulan akan memberi respons terhadap suara yang keras.

Responsnya seperti mengedipkan mata, terkejut, atau terbangun dari tidurnya. Bayi juga sudah mulai familier dengan suara ibu dan ayahnya dan mencari sumber suara yang didengarnya. Bukan hanya itu, bayi juga sudah hafal bau khas kedua orangtuanya. Bayi lantas merasa lebih tenang jika mencium bau itu karena percaya orang tuanya ada terus menemani.

Adapun suara pertama yang dikeluarkan bayi adalah tangisan. Selanjutnya bayi memperhatikan wajah orang dan melihat mulut mereka bergerak-gerak ketika berbicara. Bayi lalu mencoba menirunya dengan mengeluarkan bunyi vokal. Menginjak usia 6 bulan, bayi belajar bahasa bibir, seperti mama, papa, dan dada. Jadi, jangan heran kalau anak Anda lebih senang memanggil mama.

Keterampilan berbicara ini berbarengan munculnya dengan kemampuan makan. Bayi memang senang memperhatikan gerak-gerik orang di sekelilingnya, terutama sang ibu. Bayi pun sebenarnya sudah mampu diajak berinteraksi. Seiring berjalannya waktu, kemampuan interaksi sosial ini semakin dinamis. Terlihat dari kontak mata yang makin intens, matanya yang mengikuti arah kita pergi dan tersenyum.

Sambil bermain bersama bayi Anda, coba pijat tubuhnya perlahan, pasti bayi akan menyukai pijatan yang dilakukan ibu atau ayahnya. Pemijatan sangat baik untuk tumbuh kembang bayi. Manfaatnya bagi fisik, peredaran darah bayi menjadi lancar. Sambil dipijat, Anda bisa merangsang perkembangannya dengan mengajak bicara dan sesekali menggelitik perut atau kakinya.

Perkembangan melibatkan perubahan, baik fungsi atau ukuran. Misalnya perkembangan inteligensia menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf. Perkembangan awal akan menentukan perkembangan selanjutnya. Dan, perkembangan mempunyai pola tetap.

Perkembangan berbicara tentang kualitas, sementara pertumbuhan menyoal kuantitas. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel dalam organ-organ tubuh, bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh, yang diukur dengan satuan panjang atau satuan berat.

“Laju pertumbuhan fisik ini perlu dinilai secara periodik untuk mengetahui kalau ada gangguan sehingga dapat diatasi sedini mungkin,” kata dr Efrianty Nugroho SpA.
(dat06/okezone)

www.femina.co.id

Jumat, 26 Oktober 2012

TIPS MENGAJAR ANAK MENGENAL HURUF

latihan menulis
Ajarkan anak-anak prasekolah cara sederhana dan menyenangkan untuk belajar menulis abjad alfabet. Bunda dapat membantu anak-anak prasekolah menulis abjad alfabet melalui pewarnaan, dan bermain game bersama. Kegiatan ini sangat penting, karena menjadi modal bagi anak untuk bisa membaca dan menulis di saat memasuki usia sekolah. Terkadang banyak kendala dihadapi dalam mengajar anak mengenali huruf dan abjad alfabet, tetapi dengan mencari cara menyenangkan untuk menulis alfabet bersama-sama, akan membantu anak-anak prasekolah akhirnya bisa menulis abjad sendiri. Berikut tips dan cara mengajari anak mengenal huruf dan abjad alfabet :
Instruksi
  • Mulailah menulis huruf pertama dari alfabet dalam huruf besar dan huruf kecil dalam ukuran yang besar. Tulislah dibalik kertas bekas atau kertas yang tidak terpakai lagi.Misalnya, "A a". kemudian B diikuti menulis b. Ini bertujuan agar anak mengetahui bentuk huruf.
  • Perlihatkan Huruf tersebut kepada anak anda, dan kemudian perdengarkanlah bunyi huruf tersebut kepada mereka. Belajar mengenali bunyi huruf akan membantu anak-anak prasekolah menyimpannya ke memori otak sebelum mereka mulai menulis.
  • Memainkan permainan asosiasi atau persamaan untuk membantu anak-anak prasekolah menghafal abjad alfabet. Misalnya, "singkatan dari A adalah apel."
  • Untuk mengajarinya menulis bentuk huruf, gambarlah huruf dengan garis putus-putus pada sebuah kertas. Kita sebut kertas berpola. Mintalah siswa untuk melacak dan menggarisnya dengan menggunakan spidol atau crayon sampai membentuk huruf yang dimaksud. Biarkan mereka melacak huruf dan abjad alfabet satu per satu, sehingga mereka merasa nyaman dengan bentuk setiap huruf itu.
  • Singkirkan kertas berpola dan berikian kertas kosong. Mintalah anak untuk mencoba menulis abjad sendiri. Gunakan pensil atau spidol warna-warni yang memungkinkan mereka menggambar huruf dengan bentuk secantik mungkin. Anak akan bersemangat untuk berlatih menulis alfabet jika mereka menganggapnya sebagai kegiatan yang menyenangkan.
  • Ingatkan anak-anak akan kata-kata asosiasi ketika mereka lupa akan huruf berikut pada kata yang ingin ditulis. Misalnya, "Huruf yang akan kakak tulis adalah "Bebek" untuk mengingatkan mereka tentang huruf "B."
Praktek.
  • Mendorong anak-anak untuk terus berlatih menulis huruf dengan menelusuri atau mewarnai sendiri sesuai kebutuhan. Biarkan mereka tahu bahwa dibutuhkan waktu untuk mempelajari seluruh alfabet, dan memberitahu mereka seberapa baik yang mereka lakukan untuk memotivasi mereka untuk terus berlatih dengan baik.
  • Baca bersama-sama sesering mungkin. Misalkan membaca dongeng dan cerita anak. Membaca akan memungkinkan anak-anak prasekolah untuk melihat alfabet tertulis dan mulai memahami bagaimana menghubungkan huruf untuk membentuk kata-kata. Membaca akan membantu siswa belajar menulis alfabet lebih cepat dengan melihat  bentuk huruf sesring mungkin.
  • Mencetak atau printlah bahan ajar yang menarik anak, seperti flashcards ABC atau poster berisikan bentuk huruf, lalu tempelkan di kamar anak. ini untuk membantu menanamkan di memori anak dengan selalu melihatnya setiap saat.
SUMBER:  http://www.bincanganak.com

Selasa, 23 Oktober 2012

MENGHADAPI ANAK HIPERAKTIF

Memiliki anak yang aktif dan ceria, orangtua mana pun pasti bahagia. Tapi jika anak terlampau aktif dan tak bisa diam, pasti Bunda kewalahan juga. Misalnya, ketika waktunya makan, ia malah sibuk lari-larian ke sekeliling penjuru rumah. Ketika bermain pun tak jarang ia mengalami kecelakaan kecil seperti tersandung atau terantuk sesuatu hingga memar. Namun, Bunda juga jangan lekas-lekas mengecapnya bandel. Karena itu, Bunda perlu mengetahui langkah-langkah dasar dalam menghadapi anak hiperaktif.
Pertama, atur pemberian makanan yang mengandung gula atau karbohidrat sulingan berkadar tinggi, seperti nasi putih atau berbagai produk olahan tepung, agar tidak berlebih. Hindari juga penyedap rasa serta pemanis dan pewarna buatan. Asupan yang tepat untuk membantu Bunda menghadapi anak hiperaktif adalah makanan yang mengandung kalsium dan magnesium—seperti sayur-mayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain itu, karena pergerakan anak hiperaktif sangat dinamis, metabolisme tubuhnya pun relatif cepat sehingga ia butuh asupan lebih sering daripada anak yang lain.
Kemudian, menghadapi anak hiperaktif juga membutuhkan banyak kesabaran. Menerapkan kedisiplinan itu penting, tapi usahakan untuk tidak berlebihan dan otoriter. Terutama untuk anak hiperaktif, tekanan dan omelan hanya akan membuatnya semakin berontak. Jadi, dalam keadaan sejengkel apa pun, Bunda sebaiknya berusaha menenangkan diri dan menegur si kecil dengan cara yang lebih persuasif seperti bujukan yang halus dan memberikan penjelasan.
Pada beberapa kasus, menghadapi anak hiperaktif mungkin memerlukan pemberian obat sesuai dengan petunjuk dokter. Misalnya, penggunaan antidepresan seperti ritalin, dexedrine, desoxyn, adderal, cylert, buspar, dan clonidine. Akan tetapi, sebisa mungkin hindari penggunaan obat-obatan seperti itu. Jika Bunda sudah merasa bahwa hiperaktif si kecil sudah mustahil untuk ditangani sendiri, bawa ia bertemu psikolog anak untuk menjalani terapi cognitive behavior untuk menumbuhkan self control dalam dirinya.
Terakhir, anak hiperaktif biasanya memiliki energi berlebih. Jadi, ada baiknya jika Bunda menemani si kecil menjalani aktivitas fisik seperti bermain di lapangan untuk menyalurkan energi tersebut. Ketika ia merasa lelah, Bunda juga bisa menemaninya dengan membacakannya cerita ringan sambil bersantai di rumah untuk melatih kemampuannya berkonsentrasi. Karena, pada dasarnya anak hiperaktif memiliki potensi intelegensi yang luar biasa ketika ia mampu berkonsentrasi.

SUMBER:  http://www.ibudanbalita.com